Friday, January 10, 2020

Pentingnya Ibadah



Oleh: Zakariya al-Bantany


Kita ini manusia, kehidupan, bumi dan alam semesta adalah milik Allah SWT. Karena, kita manusia, kehidupan, bumi dan alam semesta adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah Tuhan semesta alam. Allah SWT berfirman:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ ۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ

"Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" (QS. As-Sajadah: 04)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa." (QS. Al-Baqarah: 21)

Dan kita ini sebagai makhluk-Nya pun bakal mati kelak dan tiada kekal di dunia ini, sebaliknya Allah SWT Maha Kekal. Allah SWT berfirman:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An-Nisa’: 78)

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad).” (QS. Al-Anbiya’: 34)

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (26) وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ (27)

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 26-27)


Kemudian setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Allah SWT pun berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan kematian.” (QS. Ali Imran: 185)


Dan tentunya sebuah keniscayaan pula bahwa seluruh amal perbuatan kita baik ataupun buruknya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT di Yaumil Hisab kelak dan hasil akhirnya adalah surga ataukah neraka di akhirat kelak. Allah SWT berfirman:

يَوْمَىِٕذٍ يَّصْدُرُ النَّاسُ اَشْتَاتًا ەۙ لِّيُرَوْا اَعْمَالَهُمْۗ

"Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya.

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ

Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”

وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ

Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." (QS. Al-Zalzalah: 6-8).


Di Yaumil Hisab kelak kita dihisab atau diadili oleh Allah hanya pakai cara hukum-hukum Allah atau Syariah-Nya semata bukan pakai cara hukum Pancasila, demokrasi ataupun hukum jahiliyah lainnya.

Setelah dihisab di Yaumil Hisab kelak balasannya hanya ada dua pilihan di Akhirat nanti yakni surga ataukah justru di neraka. Jika seorang yang beriman ditimbang lebih banyak amal shalihnya, maka positif ia bakal ke surga. Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَى جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ مَنْ تَزَكَّى

“Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal shalih, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), (yaitu) surga-surga ‘Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan).” (QS. Thaha: 75-76)


Rasulullah Saw. bersabda

إنَّ في الجنةِ مائةَ درجةٍ ، أعدَّها اللهُ للمجاهدين في سبيلِه ، كلُّ درجتيْنِ ما بينهما كما بين السماءِ والأرضِ ، فإذا سألتم اللهَ فسلُوهُ الفردوسَ ، فإنَّهُ أوسطُ الجنةِ ، وأعلى الجنةِ ، وفوقَه عرشُ الرحمنِ ، ومنه تَفجَّرُ أنهارُ الجنةِ

“Surga itu ada 100 tingkatan, yang dipersiapkan oleh Allah untuk para Mujahid di jalan Allah. Jarak antara dua surga yang berdekatan sejauh jarak langit dan bumi. Dan jika kalian meminta kepada Allah, mintalah surga Firdaus, karena itulah surga yang paling tengah dan paling tinggi yang di atasnya terdapat Arsy milik Ar-Rahman, darinya pula (Firdaus) bercabang sungai-sungai surga.” (HR. Al-Bukhari, No. 2790)


Sebaliknya bila ia ditimbang ternyata lebih banyak amal salah dan amal thalih (buruk) nya, maka positif ia bakal ke neraka minimal berabad-abad lamanya bagi muslim yang banyak maksiatnya dan maksimal kekal selama-lamanya di neraka bagi orang-orang kafir dan munafik. Allah SWT berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ هِيَ حَسْبُهُمْ ۚ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ

"Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal." (QS. At-Taubah: 68)


Nabi Saw pun bersabda:

أَمَّا أَهْلُ النَّارِ الَّذِينَ هُمْ أَهْلُهَا فَإِنَّهُمْ لَا يَمُوتُونَ فِيهَا وَلَا يَحْيَوْنَ وَلَكِنْ نَاسٌ أَصَابَتْهُمُ النَّارُ بِذُنُوبِهِمْ أَوْ قَالَ بِخَطَايَاهُمْ فَأَمَاتَهُمْ إِمَاتَةً حَتَّى إِذَا كَانُوا فَحْمًا أُذِنَ بِالشَّفَاعَةِ فَجِيءَ بِهِمْ ضَبَائِرَ ضَبَائِرَ فَبُثُّوا عَلَى أَنْهَارِ الْجَنَّةِ ثُمَّ قِيلَ يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ أَفِيضُوا عَلَيْهِمْ فَيَنْبُتُونَ نَبَاتَ الْحِبَّةِ تَكُونُ فِي حَمِيلِ السَّيْلِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ كَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ كَانَ بِالْبَادِيَةِ

“Adapun ahli neraka yang mereka merupakan penduduknya, maka sesungguhnya mereka tidak akan mati di dalam neraka dan tidak akan hidup. Tetapi orang-orang yang dibakar oleh neraka dengan sebab dosa-dosa mereka, maka Dia (Allah) mematikan mereka. Sehingga apabila mereka telah menjadi arang, diberi izin mendapatkan syafa’at. Maka mereka didatangkan dalam keadaan kelompok-kelompok yang berserakan. Lalu mereka ditebarkan di sungai-sungai surga, kemudian dikatakan: “Wahai penduduk surga tuangkan (air) kepada mereka!” Maka mereka pun tumbuh sebagaimana tumbuhnya bijian yang ada pada aliran air." (HR. Muslim, No. 185)

Karena itulah, di sinilah pentingnya ibadah, sebab menyangkut masa depan kita di akhirat kelak pilihannya hanya dua, yakni Surga ataukah neraka. Oleh karena itulah, tujuan hidup kita itu hanya untuk beribadah saja kepada Allah SWT demi meraih ridha-Nya semata. Allah SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Allah SWT pun berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus." (QS. Al-Bayyinah: 5)


Pengertian ibadah (عبادة) sendiri menurut kamus Al-Muhith karya Imam Al-Fairuz Abadi, secara bahasa artinya adalah taat (patuh, tunduk).

Sedangkan menurut istilah, sebagaimana diuraikan oleh Syaikh Muhammad Husain Abdullah dalam kitabnya Dirasat fi al-Fikri al-Islam, ibadah memiliki dua arti: arti umum dan arti khusus:

1. Arti secara umum —ini pula yang dimaksud dengan ibadah dalam kedua ayat di atas— adalah mentaati segala perintah dan menjauhi segala larangan-larangan Allah.

2. Adapun arti ibadah secara khusus adalah ketaatan kepada hukum Syara’ yang mengatur hubungan antara manusia dengan Rabbnya, seperti: shalat, puasa zakat, haji, do’a, dan lain-lain.


Mengaktualisasikan ibadah dalam arti umum inilah yang secara kongkret merupakan misi hidup manusia di dunia menurut Islam. Inilah hakikat hidup manusia di dunia, dan ini pula yang wajib menjadi landasan segala perilakunya baik pola pikir dan pola hidupnya dalam kehidupan ini. Dalam kaidah ushulul fiqh ditegaskan:

الأصل الأفال التقيد بأحكام الشرعي..

"Hukum asal perbuatan manusia selalu terikat hukum-hukum Syara'."

Aktualisasi ibadah terwujud ketika seorang Muslim mengikatkan dirinya dengan hukum-hukum Syara’ dalam segala aktivitas kehidupannya, baik ketika berhubungan dengan Rabbnya (hablun minallah) baik dalam perkara akidah dan ibadah, berhubungan dengan dirinya sendiri (hablun minannafsi) dalam perkara akhlak, makanan, minuman, dan pakaian, maupun berinteraksi dengan sesamanya (hablun minannaas) dalam perkara mu’amalah (politik, ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, pendidikan, pertahanan dan keamanan) dan uqubat (hukuman dan peradilan serta persanksian).

Ketika seorang Muslim menjalankan shalat lima waktu, mengeluarkan zakat setiap tahun, berpuasa di bulan Ramadhan, beribadah haji, bertaubat, atau membaca Al-Qur’an disebut sedang melaksanakan ibadah (dalam arti khusus).

Begitu pula tatkala dia bekerja halal secara profesional dengan etos kerja tinggi didukung keahlian dan sikap amanah, mendidik anak dengan cara Islam, menepati janji, mengkaji ajaran Islam dari akar hingga daunnya, peduli dengan keadaan kaum Muslimin yang lain, aktif berdakwah atau aktif dalam setiap kegiatan ke-Islaman, bersabar tatkala mendapat musibah, memerintahkan isteri atau anak perempuannya berjilbab, menengok teman yang sakit, bermusyawarah, menjaga kesehatan dan kebersihan dan sebagainya dia pun juga tengah menjalankan misi ibadah.

Sebaliknya, tatkala seseorang melalaikan tugas, melakukan korupsi dan manipulasi, curang, memberi suap atau menerima suap, berbohong, berzina, menenggak minuman keras beralkohol, mengkonsumsi narkoba, mengunjungi pub/diskotik, membantu terjadinya perzinaan, suka mendzalimi orang lain dan sebagainya, dikatakan ia telah telah melakukan kemaksiatan kepada Allah. Berarti ia telah lupa diri terhadap hakikat keberadaannya di dunia ini.

Demikian pula halnya bila dia menentang dakwah Islam, berjudi, menyatakan bahwa hukum Islam tidak layak karena dinilai kejam dan Khilafah ajaran Islam warisan Nabi Saw. tidak usah diikuti karena tidak cocok untuk NKRI dan bertentangan dengan Pancasila dan NKRI serta hanya memecah-belah NKRI, menghapus Khilafah dan jihad dari kurikulum pendidikan agama dengan tuduhan hanya memicu radikalisme dan terorisme, merayakan Natal bersama dan tahun baru masehi, melakukan pelecehan seksual dan penyimpangan seksual seperti LGBT, berhutang tak mau bayar, meninggalkan shalat lima waktu atau shalat Jum’at, tidak berhijab; dan lain-lain; berarti dia telah lalai dari arti hakikat hidupnya di dunia, yaitu beribadah kepada Allah.

Padahal, ibadah kepada Allah SWT tersebut baik ibadah khusus maupun ibadah umum serta menjalankan kedua ibadah tersebut secara totalitas dengan tulus ikhlas sepenuh hati dan sepenuh ketaatan kepada Allah SWT adalah bukti bahwa seorang hamba tersebut benar-benar beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Dan keimanan dan ketaqwaan itu sendiri adalah bukti seorang hamba tersebut sudah berislam secara kaffah sebagaimana yang termaktub dalam QS. Al-Baqarah: 208. Dan juga ibadah tersebut itu pun adalah kunci mendapatkan ridha, rahmah, berkah, maghfirah, mahabbah dan surga Allah. Allah SWT berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga-Nya yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali Imran: 133)

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al-A'raf: 96)

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ۙ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ

"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al-Maaidah: 9)

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا وَمَسَٰكِنَ طَيِّبَةً فِى جَنَّٰتِ عَدْنٍ ۚ وَرِضْوَٰنٌ مِّنَ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ

"Allah menjanjikan kepada orang-orang Mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar." (QS: At-Taubah: 72)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali Imran: 102)


Jadi, itulah sangat pentingnya ibadah sebagai bukti keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dan juga perkara vital yang menyangkut nasib masa depan kita di Akhirat kelak dan juga merupakan perkara surga dan neraka. Wallahu a'lam bish shawab. []

Channel Youtube Kopi Nikmat

Channel Youtube Kopi Nikmat
(klik gambar logo)

Fanpage di Facebook

Popular Posts

Search This Blog